Awas Penyakit Besar Kepala Menyerang Anda

Tragedi tenggelamnya kapal Titanic pada tahun 1912 telah berlalu lebih seabad lamanya  namun kisahnya sampai saat ini masih menjadi perbincangan yang menarik, bahkan cerita tentang tenggelamnya Titanic juga telah di filmkan dan mendapat 11 penghargaan academy award pada tahun 1998 untuk beberapa kategori.

Mungkin anda juga telah melihat filmnya yang cukup menegangkan dan menyedihkan terutama saat detik-detik Titanic berangsur-angsur tenggelam. Sahabat life optimizer kita tidak akan membahas tentang filmnya, namun kita akan mencoba mengambil pelajaran dari kejadian tenggelamnya Titanic.

Sahabat life optimizer petaka tenggelamnya Titanic tidak terlepas dari adanya dua sikap yang akhirnya menyebabkan cerita pilu bagi Titanic dan penumpangnya. Dua sikap yang akan kita bahas secara singkat yang akhirnya menjadi penyebab tragedi Titanic adalah sikap sombong dan besar kepala.

Inilah awalnya, ketika mereka membangun Titanic, seorang insinyur yang membangun Titanic ditanya dalam sebuah wawancara sebelum mereka meninggalkan Liverpool: “Apakah kapal ini bisa tenggelam di lautan?” Dia berkata “Bahkan Tuhan sekalipun tidak akan bisa menenggelamkannya.”

Kesombongan sang Insinyur seperti mendapat jawaban dari Allah SWT. Terlalu yakin dengan kapal buatannya ternyata menjadi bumerang bagi kapal Titanic karena sikap sombong ini juga mempengaruhi sikap kapten kapal Edward J. Smith yang menganggap pesan adanya gunung besar yang siap menghadang Titanic juga dianggap sepele olehnya karena merasa Titanic cukup besar dan kuat untuk melewatinya.

Dan Sebelum Titanic menabrak gunung es dan tenggelam, Titanic menerima sejumlah peringatan tentang adanya gunungan es melalui telegraf nirkabel, tapi Kapten Edward Smith tidak meminta krunya untuk memperlambat laju kapal atau mengubah haluan. Operator radio lebih peduli menyampaikan pesan pribadi kepada para penumpang daripada melanjutkan peringatan gunung es tersebut.

Sekitar pukul 23:40 tengah malam, awak kapal melihat gunungan es tepat di jalur kapal. Secepat mungkin nahkoda mengambil tindakan untuk menghindari tabrakan. Belokan tajam yang diupayakan awak kapal ternyata tak berhasil mencegah tabrakan dan cerita akhirnya tenggelamlah Titanic dengan memakan jumlah korban jiwa yang sangat besar sampai 1500 orang.
Sungguh tragedi yang sangat memilukan, harga dari kesombongan dan besar kepala dari pemilik kapal, insinyur pembuat kapal dan nakhoda kapal harus dibayar mahal dengan korban jiwa dan kerugian yang sangat besar.
Pelajaran yang bisa kita ambil adalah janganlah pernah merasa hebat dengan kemampuan diri atau produk ciptaan kita, apalagi sampai menantang Allah SWT. Tetaplah bersikap rendah hati dan merasa belum apa-apa dengan segala pencapaian kita. Sikap ini akan membuat kita selalu berhati-hati dalam bertindak dan tidak pernah menyepelekan segala nasehat dan peringatan yang disampaikan oleh orang lain.
Sekiranya nakhoda kapal mau mendengar peringatan adanya gunung besar yang menghadang di depan tentu ia akan berhati-hati dan memperlambat laju kapalnya sehingga tabrakan dapat dihindari. Namun semuanya telah terjadi, cukuplah tragedi Titanic menjadi pelajaran berharga buat kita untuk tidak bersikap sombong dan besar kepala dengan apa yang telah kita miliki saat ini.
Bagi sahabat life optimizer yang saat ini diberikan amanah jabatan, jangan sekedar bangga apalagi sombong dengan jabatan yang telah dimiliki tapi kebaikan dan manfaat apa yang dapat anda berikan dengan jabatan yang ada. Dengarkan setiap masukan dari bawahan jangan sepele dengan input dan saran mereka, siapa tahu input dan saran bawahan menjadi penentu keberhasilan anda ke depannya.
Semoga kita dijauhkan dari sikap sombong dan besar kepala.
Baihaqi

Life Optimizer Trainer

SHARE JIKA ANDA MENDAPAT MANFAAT

Visit www.baihaqilifeoptimizer.com
Follow twitter @BaihaqiMdn

 

.

Trainer Spesialis Pengembangan Diri 0852 8811 9564

Leave a reply:

Your email address will not be published.

Site Footer